Showing posts with label remaja. Show all posts
Showing posts with label remaja. Show all posts

11/5/08

Kondom, Kontrasepsi Favorit Remaja


Survei pada 24 negara di Amerika Utara dan Eropa menunjukkan bahwa perilaku seks remaja sudah dimulai sejak usia 15 tahun.

Survei dilakukan kepada 33.943 di 24 negara dan dikerjakan oleh sebuah LSM Perancis tersebut, menunjukkan 13,2 % remaja berperilaku seks aktif semenjak usia 15 tahun dan tidak menggunakan alat kontrasepsi. Sementara 82% lainnya, menggunakan alat kontrasepsi.

Dr Emmanuelle Godeau dari Service Medical du Rectorat de Toulouse menyatakan, mayoritas remaja AS dan Eropa bertanggung jawab dalam melakukan perilaku seksnya.

"Melindungi diri mereka sendiri dan rekannya untuk mencegah kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi kondom atau pil," katanya. Meski demikian, menurut Emmanuelle, di beberapa negara masih diperlukan promosi perilaku seks yang lebih bertanggung jawab pada remaja.

Prosentase remaja usia 15 tahun yang menyatakan hubungan seksual (intercourse) bervariasi pada beberapa negara, antara 14,1% di Kroasia hingga 37,6% di Inggris.

Remaja pria lebih condong melakukan perilaku seksual intercourse ketimbang remaja perempuan. Kondom merupakan alat kontrasepsi yang paling populer di antara mereka. Bagaimanapun presentasi penggunaan kondom pun bervariasi dan berbeda di tiap negara, mulai 53% di Swedia dan 89% di Yunani.

"Kondom meskipun bukan metode terbaik untuk mencegah kehamilan, namun bisa melindungi penularan penyakit seksual. Angka kegagalan kondom mencegah kehamilan pada tahun pertama penggunaan sebanyak 14,5%," katanya.

Lakukan promosi perilaku seks bertanggung jawab
Sedangkan pil kontrasepsi, lanjutnya, merupakan alat kontrasepsi kedua yang paling banyak digunakan oleh remaja yang disurvei tersebut. Sama dengan halnya kondom, penggunaan pil pun beragam dari berbagai negara, mulai 3% di Kroasia hingga 48% di Belgia dan Belanda.

Penggunaan keduanya yakni kondom dan pil, juga relatif sering dilakukan oleh remaja AS dan Eropa. Yakni mulai 2,6% di Kroasia dan 28,8% di Kanada. Sedangkan di Eropa Utara dan Barat, penggunaan pil kontrasepsi adalah sesuatu yang tidak umum.

"Ini nampak seperti ada pola berdasarkan geografi dalam penggunaan alat kontrasepsi. Hasil survei menunjukkan bahwa presentasi penggunaan alat kontrasepsi tertinggi dan efektif adalah di Eropa Barat," paparnya.

Menurut dia, tidak ada negara dari Eropa Tengah atau Timur, dengan pengecualian Masedonia, yang memiliki presentasi tinggi penggunaan alat kontrasepsi. Sehingga remaja-remaja di sana kurang terlindungi dengan baik.

Dr John Santelli dari Universitas Kolumbia, New York menyatakan hasil survei tersebut memang rasional. Dengan tingkat penggunaan alat kontrasepsi yang tinggi, maka angka kehamilan pada usia remaja menjadi rendah seperti yang terjadi di Belanda.

Remaja pria condong melakukan seksual intercourse
"Negara ini secara kuat menerima pesan bahwa penggunaan alat kontrasepsi harus dipastikan bisa diakses oleh remaja. Serta mereka juga harus mendapatkan pendidikan seks secara benar," paparnya. "Contoh tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab. Yakni perilaku seksual remaja pasti selalu memberi konsekuensi jangka pendek maupun panjang," lanjutnya.

Sementara di Australia, dilaporkan bahwa satu dari lima remaja perempuan secara sengaja mengakses pornografi melalui internet yang mendorong mereka untuk menirunya. Sementara sepertiga remaja mengaku, sering diganggu atau digoda seseorang yang sedang online. Ahli Psikologi Remaja, Dr Michael Carr Gregg menyatakan, beberapa remaja perempuan telah melakukan perilaku seksual meniru dari apa yang dilihatnya di internet.

"Ilusi dunia maya itu memberikan mereka keberanian untuk mempraktekkan di dunia nyata," katanya. "Saya berfikir hasil survei telah membuka mata kita. Bahwa situasi remaja kita sudah semakin buruk," tuturnya.

Survei di Negara Australia ini, diikuti oleh 800 remaja perempuan dengan usia 12-18 tahun melalui situs web yang dilakukan selama satu tahun. Survei ini menemukan bahwa 25% dari remaja itu merasa diganggu dan digoda secara online. Sedangkan, lebih dari 40% mengaku telah diminta untuk mengirimkan gambar telanjang foto dirinya atau setengah telanjang melalui internet.

9/26/08

Petting bisa bikin hamil

Petting adalah suatu upaya seseorang untuk merangsang pasangannya tanpa adanya penetrasi penis ke dalam vagina. Dengan adanya rangsangan tersebut dapat terjadi reaksi yang sama seperti reaksi saat terjadi hubungan seksual biasa, seperti misalnya pada wanita terjadi lubrikasi vagina, kontraksi organ-organ reproduksi dengan otot-otot penunjangnya sampai terjadinya orgasme. Pada saat orgasme organ-organ reproduksi dialiri darah jauh lebih banyak dari biasanya dan juga terjadi kontraksi ritmik lebih kencang. Biasanya tidak disertai rasa sakit seperti yang Anda rasakan.

Rasa sakit dapat disebabkan akibat adanya gangguan di daerah organ reproduksi, apalagi rasa sakit ini juga dirasakan pada saat menstruasi. Gangguan ini dapat disebabkan oleh berbagai penyebab seperti adanya infeksi, benjolan atau massa seperti kista, mioma, dan lain-lain. Untuk mengetahui penyebabnya harus dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter.

Petting sendiri sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan adanya nyeri haid. Namun pada saat petting ini terjadi paparan pada organ reproduksi dengan jari ataupun hal-hal lain yang tidak bisa dipastikan kebersihannya, sehingga paparan tersebut sangat mudah untuk menjadi sumber infeksi dari organ reproduksi dan saluran kemih (saluran kencing). Dengan adanya infeksi sangat mungkin terjadinya rasa nyeri saat petting berikutnya dan juga saat haid.

Kehamilan dapat terjadi saat terjadinya pertemuan antara sel telur dengan sperma. Kehamilan mungkin saja terjadi tergantung sejauh mana petting dilakukan. Bila sampai terjadi pergesekan penis dengan labia dan penis sudah mulai mengeluarkan cairan bening (yang sudah mengandung sperma dalam jumlah kecil) maka kehamilan sangat mungkin terjadi. Untuk itu sebaiknya periksakan diri ke dokter keluarga ataupun dokter kandungan untuk mengetahui penyebab rasa nyeri tersebut dan berhati-hatilah saat melakukan aktivitas seksual apapun dengan pasangan

9/6/08

Remaja dan Seks

Sebagian besar para remaja telah mengerti tentang seks, tetapi sebagian lagi mungkin tidak mengerti sama sekali. Sebenarnya orangtua memiliki alasan yang tepat untuk waspada, karena diantara pengetahuan dan ketidaktahuan anak-anaknya terdapat gap yang cukup luas antara kenaifan dan kebodohan. Banyak keterangan-keterangan menyesatkan yang harus diluruskan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diunginkan.

Seorang psikolog mengatakan bahwa dibanding 20 tahun lalu, pandangan remaja tentang seks sudah mulai bergeser, namun ia percaya bahwa meski kehidupan seks kini lebih bebas, tetapi masih banyak remaja yang masih memegang nilai. Yang pasti mereka kini sudah banyak yang terbuka berbicara soal seks. Sebaiknya memang demikian, mereka bisa mendapatkan informasi yang jelas dan benar, daripada mereka mencari tahu entah darimana. Kini disekolah-sekolah pun mulai peluli dengan pendidikan seks, para remaja sangat memerlukan hal-hal seperti ini, paling tidak mereka dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, seperti sebuah pepatah berbunyi ; " Jangan menilai buku hanya dari sampulnya". Artinya segala sesuatu harus dikaji secara mendalam, apa keuntungannya dan kerugiannya. Pendidikan seks sangat penting dan perlu, agar mereka tahu bagaimana cara menyalurkannya dengan sehat. Di sinilah peran orangtua sebagai teman berdiskusi sangat diperlukan. Orangtua jangan hanya melarang tetapi memberikan penjelasan saat sang remaja dalam ketidak tahuan.

Para remaja umumnya tahu bahwa seks adalah sesuatu yang sifatnya menggebu dan mereka berusaha menahan diri saat mereka berduaan dengan kekasihnya. Sebaiknya mereka di ingatkan tentang hal ini, namun remaja putra atau putri tahu bahwa kencan bisa menimbulkan masalah.

Mereka sudah hapal dengan kalimat "Awas! Hati-hati berpacaran, jangan kebablasan!" Remaja putri sudah mengerti akan pil KB dan putra tahu tentang yang namanya kondom, tetapi bekal hanya sekedar ingin tahu saja bukan berarti mereka mau menggunakannya.

Hubungan seks sebelum menikah sangat merugikan, baik secara fisik maupun psikologis. Bagi mereka yang sudah melakukan, pengalaman itu akan menimbulkan rasa cemas, dan bersalah, malu serta merasa dipermalukan. Mencegah kehamilan perlu ada akal yang sehat. Walau seks terjadi secara spontan, penggunaan pil kontrasepsi juga memerlukan perencanaan. Mereka yang ingin
melakukan hubungan seks sebelum menikah sebaiknya memikirkan hal ini dengan masak-masak, banyak kekeliruan dala penggunaan pil kontrasepsi, jika ingin menggunakannya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Kecuali menggunakan alat pencegah. Masa subur wanita juga perlu dipahami, masa subur bisa bervariasi dari bulan ke bulan berikutnya, misalnya beda tiga hari ataupun lebih, dan selain itu mereka juga harus ingat bahwa sperma masih bisa bertahan hidup di dalam tubuh wanita selama 48 jam, itulah sebabnya jika hubungan seks dilakukan dua hari sebelum siklus mestruasi masih bisa menyebabkan kehamilan. Jika hal ini masih membingungkan para remaja, berarti mereka berisiko mengalami kehamilan di luar nikah.

Para remaja juga berisiko tinggi terkena penyakit AIDS dan PHS ( Penyakit Hubungan Seks ). Banyak remaja yang berpikiran bahwa PHS hanya tertular bila berhubungan seks dengan pelacur atau seseorang yang lebih tua. Anggapan ini sangat keliru. Banyak penderita AIDS atau HIV positif tampak sama sepertinya dengan Anda, bahkan mereka sendiri pun mungkin tidak menyadari bahwa mereka terserang virus tersebut, karena masih dalam stadium awal dan belum menimbulkan gejala. Penelitian Bagian Kulit dan Kelamin ini terhadap remaja di Jakarta menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita penyakit hubungan seksual ( PHS ) terutama penderita Gonore. Infeksi PHS seperti Gonore ini pada wanita umumnya tidak menunjukkan gejala sehingga penularan penyakit tidak disadarinya, malah remaja putri lebih sering mencemaskan kemungkinan hamil daripada penularan PHS.

Ada berbagai jenis Penyakit Hubungan Seksual, namun yang paling umum adalah ; Sifilis, Gonore, dan Herpes Genitalia. Sifilis merupakan penyakit hubungan seksual yang paling ganas di banding penyakit kelamin lainnya. Karena dapat menyerang organ tubuh seperti ; Hati, kulit, pembuluh darah bahkan otak. Gejala-gejala berawal dari adanya luka yang terasa keras, namun tidak terasa sakit serta pembengkakan pada lipatan paha. Pada stadium berikutnya, akan timbul bercak-bercak berwarna merah baik pada tubuh maupun wajah, meskipun bercak ini bisa hilang dengan sendiri, tetapi kuman-kumannya tetap menetap di dalam tubuh, yang bila tidak diobati bisa menjadi Sifilis Berat.

Bila penderita Sifilis adalah ibu yang sedang hamil, umumnya pada kehamilan pertama saat kandungan berusia tiga bulan, bisa terjadi keguguran karena membentukan plasenta yang tidak normal. Remaja terkena Gonore pada wanita umumnya tidak merasakan adanya gejala sehingga tanpa disadari, dan bisa menularkan pada pasangan kencannya. Karena masa inkubasinya yang pendek yakni antara 3-5 hari, maka sumber penularan dapat di ketahui, misalnya ; si pria hari ini mendapatkan gejalanya maka tentunya ia masih ingat dengan siapa ia berkencan sekitar 3-5 hari lalu. Namun, praduga selama ini bahwa gadis-gadis yang melakukan hubungan seks atas dasar suka sama suka atau bukan profesional ini lebih bersih dari WTS, sebenarnya tidak tepat, karena bisa saja mereka tertular penyakit oleh teman kencannya yang tanpa mereka sadari karena tak pernah memeriksakan diri ke dokter.

Gejala pada laki-laki antara lain, gatal, sewaktu buang air kecil terasa sakit dan panas, serta pada pagi hari bangun tidur akan terlihat vlek pada celana dalam. Salah satu penyakit hubungan seksual yang sering kita dengar adalah Herpes Genitalia. yang pada pria akan terlihat di sekitar pangkal penis, sedangkan pada wanita, di bagian bibir dalam dan luar kemaluan tampak gelembung-gelembung kecil bergerombol, sementara kulitnya memerah dan nyeri. Yang memberatkan adalah bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan hingga tuntas dan setiap saat bisa kambuh kembali, terutama jika libido sedang memuncak.

Hubungan seks antara remaja berlawanan jenis tak jarang menjadi senjata untuk melanjutkan jalinan cinta asmara, alasan mereka untuk membuktikan ketulusan cinta. Seks merupakan pengalaman penuh emosional yang membuat Anda rapuh, Cinta dapat membutakan mata dan hati Anda, sehingga Anda pun sering salah dalam membuat keputusan. Cobalah perhatikan, bila hanya berdasarkan nafsu semata, pernikahan hanya akan seumur bulan madu, tetapi bila berdasarkan tali kasih dan pengertian, akan dapat berlangsung seumur hidup. Sebaiknya tunda aktivitas seks sampai Anda merasa pasti menemukan pasangan hidup yang cocok dan sudah waktunya membangun mahligai rumah tangga. Seks akan tampak lebih indah bila dilakukan dengan pasangan yang sah. Jadi, bagi Anda para remaja, nikmatilah masa muda dengan kegiatan positif yang menyenankan. Karena, jalan masa depan masih sangat panjang, dan masa muda tidak akan datang dua kali dalam hidup ini.

8/9/08

Remaja dan pendidikan seks?

Masih amat sedikit pihak yang mengerti dan memahami betapa pentingnya pendidikan seks bagi remaja. Faktor kuat yang membuat pendidikan seksualitas sulit diimplementasikan secara formal adalah persoalan budaya dan agama.

Selain itu, faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah kentalnya budaya patriarki yang mengakar di masyarakat. Seksualitas masih dianggap sebagai isu perempuan belaka. Pornografi merupakan hal yang ramai dibicarakan karena berdampak negatif, dan salah satu upaya membentengi remaja dari pengetahuan seks yang menyesatkan adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas yang benar. WHO menyebutkan, ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari pendidikan seksualitas.

Pertama, mengurangi jumlah remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah.

Kedua, bagi remaja yang sudah melakukan hubungan seksual, mereka akan melindungi dirinya dari penularan penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.

Mengingat rasa ingin tahu remaja yang begitu besar, pendidikan seksualitas yang diberikan harus sesuai kebutuhan remaja, serta tidak menyimpang dari prinsip pendidikan seksualitas itu sendiri. Maka, pendidikan seksualitas harus mempertimbangkan:
  • Pertama, pendidikan seksualitas harus didasarkan penghormatan hak reproduksi dan hak seksual remaja untuk mempunyai pilihan.
  • Kedua, berdasarkan pada kesetaraan jender.
  • Ketiga, partisipasi remaja secara penuh dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan seksualitas.
  • Keempat, bukan cuma dilakukan secara formal, tetapi juga nonformal.
Sampai kapankah kita masih terus memperdebatkan persoalan pendidikan seksualitas untuk remaja, sedangkan remaja sebenarnya "diam-diam" sudah mencuri informasi yang menyesatkan tentang seks dari pornografi?

Pusat Studi Seksualitas-PKBI DIY

.

Pendidikan Seks = Pornografi?

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja sebagai salah satu upaya untuk "mengerem" kasus-kasus itu, sampai saat ini masih saja diperdebatkan (bahkan banyak yang enggak setuju). Sementara, pornografi tiap saat ditemui remaja. Beberapa kajian menunjukkan, remaja haus akan informasi mengenai persoalan seksualitas dan kesehatan reproduksi.

Penelitian Djaelani yang dikutip Saifuddin (1999:6) menyatakan, 94 persen remaja menyatakan butuh nasihat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Namun, repotnya, sebagian besar remaja justru tidak dapat mengakses sumber informasi yang tepat. Jika mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi melalui jalur formal, terutama dari lingkungan sekolah dan petugas kesehatan, maka kecenderungan yang muncul adalah coba-coba sendiri mencari sumber informal.

Sebagaimana dipaparkan Elizabeth B Hurlock (1994:226), informasi mereka coba dipenuhi dengan cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi, bercumbu atau berhubungan seksual. Kebanyakan masih ada anggapan, seksualitas dan kesehatan reproduksi dinilai masih tabu untuk dibicarakan remaja.

Ada kekhawatiran (asumsi) untuk membicarakan persoalan seksualitas kepada remaja, sama halnya memancing remaja untuk melakukan tindakan coba-coba.

Sebenarnya, masalah seksualitas remaja adalah problem yang tidak henti-hentinya diperdebatkan. Ada dua pendapat tentang perlu tidaknya remaja mendapatkan informasi seksualitas. Argumen pertama memandang, bila remaja mendapat informasi tentang seks, khususnya masalah pelayanan kesehatan reproduksi, justru akan mendorong remaja melakukan aktivitas seksual dan promiskuitas lebih dini.

Sedangkan pendapat kedua mengatakan, remaja membutuhkan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan implikasi pada perilaku seksual dalam rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap kesehatannya.

Remaja sendiri merupakan kelompok umur yang sedang mengalami perkembangan. Banyak di antara remaja berada dalam kebingungan memikirkan keadaan dirinya. Sayangnya, untuk mengetahui persoalan seksualitas masih terdapat tembok penghalang. Padahal, mestinya jauh lebih baik memberikan informasi yang tepat pada mereka daripada membiarkan mereka mencari tahu dengan caranya sendiri.

Pendidikan seksualitas masih dianggap sebagai bentuk pornografi. Padahal, dalam gambaran penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Studi Seksualitas PKBI-DIY di wilayah Yogyakarta pada pertengahan tahun 2000 terhadap persepsi remaja dan guru (mewakili orangtua), anggapan itu tidak sepenuhnya terbukti.

Selama ini pendidikan seks dipersepsikan sebagai sebuah hal yang sifatnya pornografi yang tidak boleh dibicarakan, apalagi oleh remaja. Dari hasil kuesioner menggambarkan, hanya sekitar 14,29 persen (responden guru) yang menyatakan, pendidikan seks sama dengan pornografi. Dari remaja sendiri anggapan tentang pendidikan seks sama dengan pornografi tidak terbukti (0 persen).