12/7/08

Mengukur Tingkat Disfungsi Ereksi

Mengukur Tingkat Beratnya Disfungsi Ereksi Menggunakan Index IIEF

Ukuran berat ringan disfungsi ereksi banyak dipakai di klinik-klinik pengobatan. Sifatnya lebih kualitatif sehingga sulit dipakai untuk penelitian. Dalam penelitian dibutuhkan pengukuran yang lebih tepat. Untuk itu telah diciptakan suatu instrumen berupa questionaire sebagai pengukur.

Dengan mengisi questionaire ini dokter atau pasien sendiri dapat mengetahui berat ringannya disfungsi ereksi yang dialami. Walaupun alat ini hanya mengukur performa ereksi dan bukan penyebabnya, tetapi bisa memberi informasi keadaannya. Dengan demikian dokter dan pasien mempunyai suatu tolok ukur yang sama untuk menentukan keadaan.

Selanjutnya dokter dapat membuat rencana tindakan. Bila dengan pengukuran dapat diketahui bahwa tingkat beratnya disfungsi ereksi masih ringan atau sedang, maka pasien akan lebih gembira dan berpengharapan bahwa gangguan disfungsi ereksi yang dialami akan lebih mudah sembuh dan memerlukan waktu pengobatan yang lebih singkat. Bila kelihatan dari pengukuran bahwa keadaannya berat, diharapkan dokter maupun pasien akan lebih serius dalam pengobatan.

Instrumen ini disebut IIEF (International Index Of Erectile Function, Lq Rosen Raymond C., Riley Alan, Wagner Gorm et al 1997) atau biasa disingkat Index IIEF. Instrumen ini diciptakan oleh suatu committee dan karena sangat luas dan rumit kemudian disederhanakan sehingga lebih mudah dipakai sebagai berikut.

Dari 15 pertanyaan pada index IIEF, kemudian akan diambil lima pertanyaan yang dianggap cukup mewakili semua pertanyaan, sehingga index ini disebut IIEF-5.

Penentuan berat ringannya disfungsi ereksi dengan cara di atas sangat membantu untuk tujuan penelitian. Penerapannya di klinik atau praktik agak sulit. Di klinik lebih dipentingkan sejarah atau perkembangan disfungsi ereksi dari permulaan sampai saat konsultasi. Di samping itu perlu juga diketahui penyakit-penyakit atau gangguan lain yang mungkin menjadi penyebab atau penyerta.

Selanjutnya penting pula ditanyai bagaimana pola hidup penderita serta hubungan suami istri. Dengan cara demikian dokter atau terapis akan mengetahui lengkap tentang disfungsi ereksi yang dialami ditambah hampir seluruh latar belakang hidupnya. Dapat pula ditentukan berat ringannya disfungsi ereksi, program pengobatan dan prognosa atau kemungkinan tercapainya kesembuhan.

12/6/08

AGAR VAGINA MENJADI SENSITIF (PEKA DAN PERASA)

Kadangkala ada wanita yang hambar dalam melaksanakan kegiatan seksual. Apalagi pada zaman sekarang semakin banyak wanita yang menderita kelainan seperti itu.

Mereka tidak bisa menikmati pergesekan antara vagina dengan penis suaminya. Mereka kehilangan gairah sexual. Cumbu rayu dari suaminya tidak bisa membuatnya terangsang bahkan semakin sebal ia oleh tindakan suaminya itu.

Untuk mengatasi hal ini anda dapat mempergunakan ramuan tradisional.

Caranya:
Ambillah seekor tokek, pangganglah sampai hangus menjadi arak, kemudian digerus menjadi bubuk halus. Sewaktu hendak memakannya, ambil satu sendok teh rata bubuk tokek tersebut, campurkan dengan sebutir kuning telur ayam (janganlah disertakan putihnya), aduk sampai rata dan minumlah setiap pagi selama seminggu, pasti vagina akan peka sekali terhadap sentuhan yang bagaimana perlahan sekalipun, dan ini menimbulkan rangsang yang cepat buat suatu kegiatan seksual.

12/5/08

Bayi Laki-laki atau Perempuan ada Kiatnya

Secara ilmiah, penentuan jenis kelamin calon bayi sangat dipengaruhi oleh jenis kromosom yang berhasil menjangkau sel telur.

Bila kromosom X yang membuahi sel telur, maka akan lahir bayi perempuan. Sebaliknya, bila kromosom Y yang membuahi, maka akan lahir bayi laki-laki.

Sifat kromosom X berbeda dengan kromosom Y. Kromosom X, meski masa hidupnya lebih lama, memiliki kemampuan "berenang" lebih lambat dibandingkan dengan kromosom Y. Sedangkan kromosom Y itu perenang tangkas meski masa hidupnya lebih pendek.

Kiat yang mengikuti paham mitologi kuno, yang juga diikuti oleh dr. Jules Black dari Australia, ini katanya keberhasilannya mencapai 85%. Untuk memperbesar kemungkinan mendapatkan bayi laki-laki, dianjurkan agar sanggama dilakukan tepat pada saat sang istri sedang dalam masa ovulasi.

Untuk mengetahui saat itu, Anda bisa membeli peralatan sederhana (kit) yang tersedia di apotek. Posisi sanggama yang dianjurkan, istri memunggungi dada suami.

Posisi ini katanya lebih menjamin "tersimpannya" cairan sperma selain berdekatan sekali dengan bagian leher rahim istri. Dengan demikian, kromosom Y yang kemampuan berenangnya lebih cepat, praktis akan lebih cepat pula mencapai sel telur. Semakin sering cara ini dilakukan, semakin besar kemungkinannya untuk mendapatkan bayi laki-laki.

Bila kita menginginkan bayi perempuan, sanggama dilakukan sampai batas dua atau tiga hari sebelum masa ovulasi. Dengan demikian hanya kromosom X yang lebih bertahan lama sementara menunggu sel telur terlepas dari ovarium.

Sebelum hubungan dilakukan, dianjurkan untuk mengkonsumsi cairan asam. Di sini, dianjurkan pula agar penetrasi pria tidak terlalu dalam, sehingga diharapkan sel sperma kromosom X saja yang berkesempatan tetap hidup dan terus berenang menuju sel telur.

Disarankan posisi sanggamanya yang klasik (berhadapan). Menghindari orgasme (bagi istri) lebih dianjurkan agar tercipta lingkungan dalam vagina yang lebih alkalis (basa), lingkungan favorit bagi kromosom X.

Sebuah studi di Prancis menganjurkan, bila menginginkan bayi laki-laki, disarankan lebih banyak mengkonsumsi makanan asin, daging, serta makanan yang banyak mengandung kalium seperti pisang, aprikot, dan seledri. Bila ingin anak perempuan, banyak makan makanan yang mengandung banyak zat besi dan kalsium.

Tentu saja pilihan ini lebih tepat ditujukan bagi pasangan yang tidak mempunyai masalah dengan sistem reproduksinya.

12/4/08

Organ Sex Tetap Sip Meski Lama tak "Dipakai"

Ibaratnya sekalipun puluhan tahun tak melakukan hubungan seks, asalkan belum menopause dan andropause, organ seks kita tetap sip, kok.

Banyak orang khawatir, kalau lama tak melakukan hubungan intim maka organ intim kita akan karatan! Atau jangan-jangan tak bisa merasakan nikmatnya hubungan intim lagi.

Kekhawatiran ini dinilai Dr. Ayub Sani Ibrahim, sebagai hal yang tak masuk akal. Menurutnya, sekalipun hingga 10 tahun organ seks kita tidak digunakan untuk berhubungan intim dengan pasangan, tak akan jadi masalah.

"Kalau perabot kita itu terbuat dari logam, seperti onderdil atau spare part kendaraan bermotor, bisa jadi karatan karena jarang di tune-up. Tapi, kan, organ seks manusia, baik milik perempuan ataupun laki-laki, bukan logam atau onderdil kendaraan." Jadi, lanjut psikiatri dari RS Pondok Indah ini, tidak akan mungkin karatan.

HUKUM ALAM

Lain halnya jika kita telah berusia lanjut, semisal di atas 60 tahun. Di usia ini, kebutuhan terhadap seks, baik pada pria maupun wanita, tidak primer lagi melainkansudah masuk dalam tahapan kasih sayang.

"Maka dari itu, kebanyakan di usia ini hanya melakukan hubungan seks satu kali dalam sebulan." Tapi, lanjut Ayub, organ seks mereka tidak akan rusak atau menderita gangguan tertentu. "Hanya saja mungkin karena faktor usia yang telah lanjut, ketegangan penis atau ereksinya tidak sekuat kala malam pertama. Begitu juga pada wanita, vaginanya mulai kering atau lubrikasi vagina sudah mulai berkurang."

Hal ini, papar Ayub, wajar terjadi. Pasalnya, proses produksi hormon seksual, testosteron pada pria dan estrogen pada wanita, di usia itu mulai berkurang. Sekalipun gairah seksual tetap ada. "Jangankan hormon yang tidak bisa kita lihat secara langsung, kulit kita saja akan mengendur atau keriput, kering, dan tipis. Begitu pun rambut, mulai memutih. Otot-otot juga melemah, serta sendi-sendi menjadi kaku."

Begitu juga dengan faktor psikologis, kepribadian bisa berubah menjadi egois, kaku, dependent, dan kurang bertoleransi. "Bahkan dapat pula terjadi regresi, muncul sifat kekanak-kanakkan, pelupa, daya perhatian dan konsentrasi menurun."

Tapi untuk masalah organ intim, papar Ayub, tetap utuh sekalipun tidak se-tokcer kala berusia 20-30 tahun. Untuk pria, papar Ayub,akan mengalami penurunan. Frekuensi hubungan seksual menurun, pencapaian ereksi penuh melambat, kekuatan ereksi menurun, serta cairan ejakulasi berkurang dengan daya semprot melemah. Sedangkan pada wanita, terjadi menopause, buah dada menipis, rahim dan indung telur menciut, vagina kehilangan elastisitas serta mudah terinfeksi, katup kantung air seni melemah dan dapat terjadi inkontinensia urin, serta kepekaan terhadap rangsangan menurun.

Kalau sudah tiba waktunya, biasanya di atas usia 60 tahun, sekalipun sejak malam pertama hingga sebelum datangnya masa tua kita melakukan hubungan seks secara teratur dan dengan frekuensi yang sama, menurut Ayub, kemampuan seks kita akan melemah dan menurun dengan sendirinya. "Itu sudah merupakan hukum alam."

TAK PERLU OBAT KUAT

Jadi, tegas Ayub, untuk pasangan muda 25-30 tahun, sekalipun mereka lama tidak melakukan hubungan seks, entah karena si suami bekerja di tempat yang terpencil dan baru bisa pulang ke rumah 2 bulan sekali atau hal lainnya, saat melakukan hubungan seks kembali dengan istri, organ seks tidak akan mengalami perubahan sama sekali. Dari mulai ereksi, penetrasi, hingga orgasme, tetap seperti biasa. "Kecuali jika di antara mereka ada yang sakit atau penyebab lainnya yang bisa mengganggu organ seksnya, pada wanita siklus menstruasinya tidak teratur atau klimakterium, misalnya."

Sama juga jika suami atau istri yang baru berusia 30 tahun, karena satu dan lain hal tidak bisa melakukan hubungan seks dengan pasangannya, ditinggal meninggal, dan baru saat dia berusia 45 tahun, misalnya,kembali menikah, papar Ayub, tidak akan mengalami gangguan sama sekali pada organ seksnya. "Tetap bisa ereksi dengan cepat, melakukan penetrasi dengan sempurna, dan bisa orgasme seperti biasa dengan daya semprot yang tetap yahud. Bahkan frekuensi dan gairah berhubungan seks pun, kalau mereka mau, bisa saja seperti dulu, satu hari sampai 3 kali, misalnya."

Begitu juga halnya dengan rasa, tetap akan sama seperti halnya saat dia pertama kali melakukan hubungan seks. "Jangankan baru 10tahun, 20 bahkan 30 tahun tidak digunakan pun, untuk soal rasa tetap akan sama." Hanya saja kalau pada wanita yang sudah menopause, dia harus mendapat bantuan obat sebagai lubrikasi pada vaginanya. "Tapi kalau pada pria, tak perlu obat-obatan, sekalipun ereksinya lamban."

Mengapa demikian? Tak lain, "Karena organ seks kita tidak berubah sama sekali, pada pria tetap penis dan pada wanita, vagina. Selain itu, yang mempengaruhi soal seks dan organ seks adalah hormonal dan usia, bisa juga karena kecelakaan dan psikologis. Jadi, bukan karena lamanya tidak digunakan."

Karena itu, pesan Ayub, tak usah repot-repot mencari obat-obatan atau terapi, baik secara medis ataupun alternatif, gara-gara takut organ seks karatan dan tak "macho" atau tak "seelastis" dulu lagi. "Buat apa capek-capek ngurusinbegituan. Malah, bisa jadi karena perasaan khawatir itulah,justru bikin organ seks terganggu."

Pakai obat-obatan sehebat apa pun, papar Ayub, kalau memang sudah waktunya harus berakhir, bisa dipastikan hal itu akan terjadi, sehingga obat-obatan tersebut percuma saja. Penis si pria akan lamban ereksi serta kekuatan ereksinya mulai menurun, sementara pada wanita, vaginanya sudah mulai mengkerut dan lubrikasinya berkurang.

Jadi, Bu-Pak, anggapan yang menyatakan bahwa kalau organ intim kita lama tidak dipakai akan menyebabkan pada pria loyo, tidak jantan, ejakulasi dini dan pada wanita berupa frigid,kesakitan saat melakukan hubungan seks kembali, adalah salah besar.

12/3/08

Mitos Seks di Seputar Kehamilan

Banyak mitos tentang seks dan kehamilan yang beredar luas di masyarakat, dan dianggap sebagai suatu kebenaran. Karena dianggap benar, maka perilaku seksual juga dipengaruhi dan mengikuti informasi yang salah sesuai dengan mitos itu.

1. Harus sering. Salah satu mitos yang beredar luas di masyarakat ialah hubungan seksual harus sering dilakukan selama masa hamil, agar bayi di dalam rahim dapat bertumbuh subur dan sehat. Alasannya, dengan melakukan hubungan seksual maka bayi mendapat siraman sperma sehingga bertumbuh subur dan menjadi bayi yang normal dan sehat. Maka tidak sedikit pasangan suami istri yang berupaya agar sering melakukan hubungan seksual selama hamil dengan tujuan agar sang bayi normal dan sehat. Padahal anggapan tersebut tidak benar sama sekali. Tidak ada hubungan lagi antara sperma dengan bayi yang ada di dalam rahim. Tidak ada hubungan pula antara sperma dan pertumbuhan bayi. Artinya, kalau selama hamil melakukan hubungan seksual, maka sel. Jadi subur dan sehatnya bayi di dalam rahim tidak dipengaruhi oleh ada tidaknya sperma yang masuk selama kehamilan. Yang benar adalah, kualitas sel spermatozoa yang berhasil membuahi sel telur berpengaruh terhadap kesehatan kehamilan yang terjadi.

2. Posisi Kanan & Kiri. Mitos yang lain mengaitkan posisi hubungan seksual dengan jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan. Konon kalau posisi pria ketika melakukan hubungan seksual dimulai dari kiri dan diakhiri di sebelah kanan, maka bayi laki-laki yang akan dilahirkan. Sebaliknya, bila hubungan seksual dimulai dari sisi kanan dan diakhiri di sisi kiri, maka bayi perempuan yang akan dilahirkan. Tentu saja informasi ini salah dan sangat tidak rasional, karena jenis kelamin bayi tidak ditentukan oleh posisi pria ketika berhubungan seksual. Jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis sel spermatozoa yang berhasil membuahi sel telur. Kalau spermatozoa dengan kandungan kromosom X yang membuahi sel telur, maka akan terbentuk bayi perempuan. Kalau spermatozoa dengan kromosom Y yang membuahi sel telur, akan terbentuk bayi laki-laki. Tetapi ternyata tidak sedikit orang yang mempercayai mitos itu dan melakukannya.

3. Boleh-Tidaknya Berhubungan. Anggapan lain yang juga salah tetapi beredar luas di masyarakat ialah bahwa hubungan seksual tidak boleh dilakukan agar tidak mengganggu perkembangan bayi. Anggapan ini tidak benar, karena tidak ada alasan bahwa hubungan seksual pasti mengganggu perkembangan bayi.

Sebaliknya ada anggapan lain yang menyatakan bahwa hubungan seksual tidak menimbulkan akibat apa pun terhadap kehamilan, sehingga boleh saja dilakukan seperti sebelumnya. Anggapan ini juga tidak selalu benar, tergantung kondisi kehamilannya.

12/2/08

Penyebab Sulit Punya Anak

INFERTILITAS adalah suatu keadaan pasangan yang sudah menikah lebih dari satu setengah tahun tanpa kontrasepsi, tidak punya anak. Angka satu setengah tahun ditetapkan, karena biasanya 85 persen pasangan dalam satu setengah tahun sudah memiliki keturunan. Ini berarti, 15 persen pasangan usia subur punya masalah ini.

Kenyataan menunjukkan, 40 persen masalah yang membuat sulit punya anak terdapat pada wanita, 40 persen pada pria, dan 30 persen pada keduanya. Jadi, tidak benar anggapan bahwa kaum wanita lebih bertanggung jawab terhadap kesulitan mendapatkan anak.

Walaupun masalah infertilitas tidak berpengaruh terhadap aktivitas fisik sehari-hari dan tidak mengancam jiwa, bagi banyak pasangan hal ini berdampak besar terhadap kehidupan berkeluarga. Sudah tentu faktor psikokultural mempengaruhi sikap pasangan terhadap masalah ini, termasuk upaya-upaya irasional untuk punya anak. Memang apa yang dilakukan penderita tidak dapat disalahkan sepenuhnya, karena ilmu kedokteran yang mutakhir sekalipun belum dapat menjawab seluruh masalah infertilitas secara memuaskan.

Pemeriksaan dokter terhadap pria penderita infertilitas dilakukan seperti layaknya pada penderita pada penyakit lain, namun disertai dengan pemeriksaan sperma. Pemerik-saan ini untuk melihat potensi pria untuk membuahi. Bila ada masalah, barulah dilakukan pemeriksaan lain yang lebih mendalam.

Penyebab

Seperti halnya penanggulangan penyakit pada umumnya, usaha pertama yang selalu harus diusahakan adalah mencari penyebab infertilitas.

Evaluasi terhadap pria penderita infertilitas yang datang ke klinik infertilitas bagian Urologi RSUPN Cipto Mangunkusumo menunjukkan, 20-25 persen penderita tidak diketahui penyebabnya. Besar kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh faktor genetik karena penelitian mutakhir mengarah pada adanya kelainan di kromosom.

Penyebab terbanyak infertilitas pria adalah pelebaran pembuluh darah balik/vena di sekitar buah zakar yang disebut varikokel. Pada pemeriksaan fisik, hal ini ditemukan dalam bentuk benjolan di bagian atas buah zakar yang akan bertambah besar dan nyata bila mengejan. Yang lebih sering kena adalah buah zakar kiri.

Sebagian besar varikokel tidak disertai rasa sakit walaupun ada juga yang mengeluh pegal-pegal di daerah tersebut. Varikokel ditemukan pada 40 persen penderita. Temuan ini tidak jauh berbeda dengan temuan salah satu pusat penanggulangan infertilitas terkenal di Baylor College of Medicine, Amerika Serikat, yaitu 42 persen.

Penyebab lain dari infertilitas pada pria adalah sumbatan/obstruksi pada saluran sperma. Jadi walaupun spermatozoa diproduksi dengan baik, tetap tidak dapat disalurkan. Biasanya hal ini diakibatkan oleh terjadinya infeksi maupun bawaan dari lahir karena tidak terbentuknya sebagian saluran sperma. Hal ini terjadi pada 15 persen penderita.

Pada 20 persen sisanya, infertilitas diakibatkan oleh berbagai faktor, misalnya gangguan hormon, kelainan bawaan, pengaruh obat, gangguan ereksi atau ejakulasi, radiasi, keracunan pestisida, gangguan imunologi, operasi di daerah panggul, dan lain-lain.

Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab itu, beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah maupun menanggulangi infertilitas.

Pencegahan infertilitas

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

1. Berbagai macam infeksi diketahui menyebabkan infertilitas terutama infeksi prostat, buah zakar, maupun saluran sperma. Karena itu, setiap infeksi di daerah ini haruslah ditangani secara serius.
2. Beberapa zat dapat meracuni pertumbuhan sperma. Banyak penelitian menunjukkan pengaruh buruk merokok terhadap jumlah dan kualitas sperma. Walaupun tiap penelitian berbeda dalam menentukan jumlah batang rokok yang berpengaruh, sudah cukup alasan bagi pria dengan jumlah dan kualitas sperma kurang untuk berhenti merokok.
3. Alkohol dalam jumlah banyak dihubungkan dengan rendahnya kadar hormon testosteron yang tentu akan mengganggu pertumbuhan sperma. Mariyuana juga dikenal sebagai salah satu penyebab gangguan pertumbuhan sperma, sehingga penghentian penggunaan mariyuana dan alkohol merupakan usaha preventif untuk infertilitas.
4. Cukup banyak obat-obatan yang mempengaruhi sperma. Oleh karena itu, beri tahukan selengkapnya obat yang pernah dan sedang dipakai kepada dokter yang menolong Anda.

Penanggulangan infertilitas

Penanggulangan terbaik adalah dengan menangani penyebabnya. Sayang, tidak semua penyebab diketahui dan sebaliknya cukup banyak penderita yang diketahui penyebabnya, namun tidak dapat tuntas ditanggulangi.

1. Varikokel. Tindakan yang saat ini dianggap paling tepat adalah dengan operasi berupa pengikatan pembuluh darah yang melebar (varikokel) tersebut. Sebagian besar penelitian menunjukkan manfaat tindakan ini walaupun metodologi penelitiannya belum sempurna karena tanpa pembanding. Suatu penelitian dengan pembanding menunjukkan keberhasilan tindakan pada 66 persen penderita berupa peningkatan jumlah sperma dan kehamilan, dibandingkan dengan hanya 10 persen pada kelompok yang tidak dioperasi.
2. Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya merupakan masalah bermakna karena meliputi 20 persen penderita. Penanggulangannya berupa pemberian beberapa macam obat, yang dari pengalaman berhasil menaikkan jumlah dan kualitas sperma. Namun sebagian besar penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pembanding, tidak menunjukkan perbaikan bermakna. Usaha menemukan penyebab di tingkat kromosom dan keberhasilan manipulasi genetik tampaknya menjadi titik harapan di masa datang.
3. Adanya penyumbatan di saluran sperma hanya dapat dipastikan dengan operasi. Bila sumbatan tidak begitu parah, dengan bantuan mikroskop dapat diusahakan koreksinya. Pada operasi yang sama, dapat juga dipastikan ada atau tidaknya produksi sperma di buah zakar.
4. Sesuai dengan kelainan yang ditemukan, maka penyebab lain bisa diatasi dengan koreksi hormonal dan penghentian obat-obatan yang diduga menyebabkan gangguan sperma.
5. Namun, usaha-usaha di atas ada kalanya belum berhasil untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma, sehingga diperlukan teknik reproduksi bantuan. Termasuk dalam hal ini adalah inseminasi bantuan dan inseminasi in-vitro (IVF/bayi tabung), yang sangat membantu mengatasi masalah infertilitas pria.

Misalnya, pria dengan jumlah sperma hanya 5-10 juta/cc (dari normal 20 juta) dapat mencoba inseminasi buatan. IVF hanya membutuhkan sperma 500.000 dengan angka kehamilan 30-35 persen.

Kemajuan yang paling menakjubkan dalam 7-8 tahun terakhir adalah IVF dengan teknik ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection) yang hanya membutuhkan beberapa spermatozoa untuk disuntikkan ke dalam sel telur ibu. Tingkat keberhasilannya hampir sama.

Penjelasan gamblang

Demikianlah gambaran sepintas masalah infertilitas pada pria. Usaha mempunyai keturunan yang sudah berlangsung berabad-abad memang akan berlangsung terus. Berbagai kemajuan telah dicapai walaupun ada satu hal yang tetap, yaitu harapan yang demikian besar dari penderita. Terkadang hal ini menyebabkan pilihan-pilihan dilakukan tanpa perhitungan matang.

Oleh karena itu, mintalah selalu kepada dokter Anda penjelasan yang gamblang tentang terapi yang ditawarkan, lengkap dengan kemungkinan keberhasilannya. Dengan cara ini Anda dapat lebih rasional melakukan segala pemeriksaan dan pengobatan, tanpa harapan yang berlebihan ataupun rasa putus asa.

Dr dr Akmal Taher SpBU, Sub-Bagian Urologi, Bagian Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia